III.
Pertentangan
Sosial dan Integrasi Masyarakat
1. Perbedaan Kepentingan
Perbedaan kepentingan sebenarnya merupakan sifat
naluriah disamping adanya persamaan kepentingan. Bila perbedaan kepentingan itu
terjadi pada kelompok-kelompok tertentu, misalnya pada kelompok etnis, kelompok
agama, kelompok ideology tertentu termasuk antara mayoritas dan minoritas.
Maksudnya adalah pendapat atau kepentingan seseorang yang berbeda dengan yang
lainnya. Terkadang bisa menyebabkan perdebatan yang bisa berakhir secara damai
atau sebaliknya berakhir secara anarkis.
Namun jika dicermati, perbedaan kepentingan dapat
disiasati dengan saling bertoleransi dan meningkatkan solidaritas antar
masyarakat agar bisa tetep hidup berdampingan dalam suasana yang harmonis.
2. Pengertian Deskriminasi dan Ethosentris
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak
adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan
karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan
suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan
karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain.
ยท
Diskriminasi
langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan
karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan
menghambat adanya peluang yang sama.
ยท
Diskriminasi
tidak langsung, terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi
diskriminatif saat diterapkan di lapangan.
Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat
dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri, maksudnya Etnosentrisme yaitu
suatu kecendrungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya
sendiri sebagai suatu yang prima, terbaik, mutlak, dan dipergunakannya tolak
ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama
lain saling berlawanan, yakni :
ยท
Tipe
pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki etnosentrisme
ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara
tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada cara pandang budaya
mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang
budayanya.
ยท
Tipe
kedua adalah etnosentrisme infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan
ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa
memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami
perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.
Kesimpulannya di Indonesia banyak tejadi hal โ hal
seperti di atas, hal itu dikarenakan beberapa faktor, antara lain perbedaan
agama, budaya, keyakinan, dan lainnya. Untuk menghindari hal tersebut dirasa
sulit sebab kurangnya wadah untuk menampung hal tersebut, misalnya kurangnya
hubungan antar kelompok, kurangnya sosialisasi, dan yang terpenting adalah
kurangnya kesadaran dari diri sendiri, apabila hal itu dapat dilakukan niscaya
hal โ hal diatas tidak akan tumbuh.
3. Pertentangan dan Ketegangan Dalam Masyarakat
Konflik (pertentangan) mengandung suatu pengertian
tingkah laku yang lebih luas dari pada yang biasa dibayangkan orang dengan
mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau perang.
Dasar konflik berbeda-beda. Terdapat 3 elemen
dasar yang merupakan cirri-ciri dari situasi konflik yaitu :
1.
Terdapatnya
dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagianyang terlibat di dalam konflik
2.
Unti-unit
tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan,
tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun
gagasan-gagasan
3.
Terdapatnya
interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.
Konflik merupakan suatu tingkah laku yang
dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya,
misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada lingkungan yang
paling kecil yaitu individu, sampai kepada lingkungan yang luas yaitu
masyarakat :
1.
Pada
taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan,
ketidakpastian, atau emosi-emosi dan dorongan yang antagonistic didalam diri
seseorang
2.
Pada
taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi dalam diri
individu, dari perbedaan-perbedaan pada para anggota kelompok dalam
tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk
menjadi anggota kelompok, serta minat mereka.
3.
Para
taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara nilai-nilai
dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai an norma-norma kelompok yang
bersangkutan berbeda.Perbedan-perbedaan dalam nilai, tujuan dan norma serta
minat, disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup dan sumber-sumber
sosio-ekonomis didalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang aa dalam
kebudayaan-kebudayaan lain.
Adapun cara-cara pemecahan konflik tersebut adalah
:
1.
Elimination;
yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang telibat dalam konflik yagn
diungkapkan dengan : kami mengalah, kami mendongkol, kami keluar, kami
membentuk kelompok kami sendiri.
2.
Subjugation
atau domination, artinya orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar
dapat memaksa orang atau pihak lain untuk mentaatinya.
3.
Mjority
Rule artinya suara terbanyak yang ditentukan dengan voting akan menentukan
keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4.
Minority
Consent; artinya kelompok mayoritas yang memenangkan, namun kelompok minoritas
tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta sepakan untuk melakukan
kegiatan bersama.
5.
Compromise;
artinya kedua atau semua sub kelompok yang telibat dalam konflik berusaha
mencari dan mendapatkan jalan tengah.
6.
Integration;
artinya pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan dan
ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi
semua pihak.
4. Golongan-Golongan Yang Berbeda dan Itegrasi Sosial
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai
masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial
yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara Indonesia. Masyarakat
majemuk dipersatukan oleh sistem nasional yang mengintegrasikannya melalui
jaringan-jaringan pemerintahan, politik, ekonomi, dan sosial. Aspek-aspek dari
kemasyarakatan tersebut, yaitu Suku Bangsa dan Kebudayaan, Agama, Bahasa,
Nasional Indonesia.
Masalah besar yang dihadapi Indonesia setelah
merdeka adalah integrasi diantara masyarakat yang majemuk. Integrasi bukan
peleburan, tetapi keserasian persatuan. Masyarakat majemuk tetap berada pada
kemajemukkannya, mereka dapat hidup serasi berdampingan (Bhineka Tunggal Ika),
berbeda-beda tetapi merupakan kesatuan. Adapun hal-hal yang dapat menjadi
penghambat dalam integrasi:
1.
Tuntutan
penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai miliknya
2.
Isu
asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi antar warga
negara Indonesia asli dengan keturunan (Tionghoa,arab)
3.
Agama,
sentimen agama dapat digerakkan untuk mempertajam perbedaan kesukuan
4.
Prasangka
yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang anggota golongan tertentu
5. Pengertian Integrasi Nasional
Seharusnya Indonesia sebagai negara yang banyak
perbedaannya menjadi negara multikultur yang menjadi nilai lebih untuk
masyarakatnya sendiri, dengan saling menjalin kasih sayang, saling menghormati
satu sama lain, tidak memandang rasisme yang berlebihan, hanya perlu saling
menghargai satu sama lain akan terjalin pula keadaan yang harmonis di dalam
negara kita ini. Karena biar bagaimanapun kemerdekaan yang saat ini sudah ada
tidak mudah kita dapatkan, melainkan perlu perjuangan yang keras yang para
pahlawan kita, oleh sebab itu sudah merupakan tanggung jawab kita generasi
sekarang untuk menjaga keutuhan Negara tercinta ini sehingga terciptalah
persatuan dan kesatuan yang semakin mendalam antar sesama warga Negara.
http://dh3m0echan.wordpress.com/2011/01/06/pertentangan-sosial-dan-integrasi-masyarakat
http://ndirezpector.blogspot.com/2011/11/tugas-isd-bab-8.html
Komentar
Posting Komentar